header image
 

Sharmila : Sebuah Pencarian Jati Diri.

Klik. Perlahan api menyambar rokok. Menyulut tembakau hingga berubah menjadi gumpalan asap.

Ia terduduk sendiri di jendela. Menarik. Menghembus. Mengepulkan. Melihat kejauhan.

Saat inilah paling damai. Gelap. Sepi. Langit hitam tanpa bintang. Gemerlap lampu kuning menyinari jalan, menciptakan berbagai bayang.

Dan kemudian… datanglah sosoknya.

"Kenapa harus dia?" tanyanya dalam hati, sambil setengah mati menahan sumpah serapah. Kata-kata keputusasaan. Harapan yang sia-sia.

"Ah…meranggas aja terus. sial."

Abu memberontak, melepaskan diri dari bara, kemudian terbang, melayang-layang dan luruh tertiup angin.

Kenangan demi kenangan menari dalam benaknya.

Pengalaman hidup. Kesuksesan. Kegagalan. Petuah. Khilaf. Insyaf. Pilihan. Keberanian. Semua bercampur aduk.

Tetapi ada satu kenangan terpisah dari yang lainnya.

Kenangan itu tersasar dalam perasaannya.

Kenangan tentangnya.

Satu kenangan yang seharusnya dikubur dalam-dalam. Seharusnya telah habis digerogoti ulat-ulat dalam benaknya.
Tetapi tengkorak takkan habis dimakan masa. Menunggu untuk diziarahi sesekali. Diperindah dengan tanaman dan wewangian bunga-bunga.
Pembenaran yang menyakitkan. Tetapi akhirnya dituruti juga. Menjadikan dia, "tengkorak" itu, sebagai racun dalam jantungnya. Dia, dia, dan dia lagi.

"…"

Dua tahun penuh kejutan. Ia belajar menyukai seseorang dengan perlahan. Melupakan semua dorongan instan. Mengetahui makna pengorbanan yang sebenarnya. Mempercayakan segenap hidupnya tanpa syarat. Sekujur tubuhnya terasa ngilu.

Mereka telah melalui banyak waktu bersama. Berbagi tawa. Berbagi cerita lucu. Berbagi sedih. Berbagi pundak. Berbagi pemikiran. Berbagi ide. Berbagi jiwa.

Ada satu kalimat yang ia selalu ingat. Bermakna. Mengenyuhkan. Menenangkan.

"[ Aku ] tahu kesepian itu apa. [ Aku ] hidup dalam kesepian. Tapi [ aku ] nggak akan membiarkan [ kamu ] menderita seperti [ aku ]. [ Aku ] akan terus ada di kala [ kamu ] butuh seseorang. [ Aku ] akan terus membuat [ kamu ] merasa berharga. [ Aku ] akan memberikan makna pada setiap langkah kecil. Pada setiap pilihan yang [ kamu ] ambil. Pada setiap senyum yang [ kamu ] nanti. Pada setiap harapan yang [ kamu ] cipta. Pada setiap kepedihan yang [ kamu ] ingin lupakan. Untuk masa depan. Untuk perubahan. Untuk kebahagiaan. Dan untuk…kita. Janji."

Dia menggenggam janjinya dengan erat.

Dia selalu ada.
Di saat ia mendapatkan sepatu yang ia suka.
Di saat ia jenuh dengan rutinitas sehari-hari.
Di saat ia makan dan ada nasi menempel di pipinya.
Di saat ia terjebak macet.
Di saat ia lupa akan janji dengan seseorang dan bingung mencari alasan.
Di saat ia terlalu lama bercermin.
Di saat ia ragu.
Di saat ia yakin.
Di saat ia melirik lelaki lain, dan dia tahu tetapi mengerti.
Di saat ia memutuskan untuk meninggalkan rumah.
Di saat ia merasa tidak percaya diri.
Di saat ia merasa sangat percaya diri.
Di saat ia kehilangan semangat.
Di saat ayahnya meninggal.
Di saat orang-orang menganggap ia aneh.
Di saat ia mencari kos.
Di saat ia melamar pekerjaan.
Di saat ia hancur berkeping-keping.
Di saat ia tertawa terbahak-bahak.
Di saat ia menerima gaji pertamanya.
Di saat ia menikmati waktu senggangmya.
Di saat ia mengambil keputusan penting dalam hidupnya.

Di saat ia akhirnya benar-benar…membutuhkan dia.

Sampai saat itu… Satu waktu yang sangat ingin ia lupakan.

Kenyataan.

Pemusnahan segala angan.

Pembantaian kebahagiaan.

Kiamat.

"Ibuku…ingin [ aku ] punya keturunan dengannya, bukan denganmu…[ Aku ] sudah coba jelaskan keadaanku berjuta-juta kali, tapi dia tidak peduli sama sekali. Semua yang telah ibu putuskan tidak pernah bisa dibantah. Katanya untuk kebaikanku. Tapi tahu apa dia tentang kebahagianku? Perasaanku jauh lebih hancur dari perasaanmu. [ Kamu ] nggak akan pernah tahu seberapa besar dan tulus perasaanku. [ Kamu ] nggak akan pernah tahu betapa remuknya jiwa dan semua kebahagiaanku harus pisah darimu. [ Aku ] terpaksa menyadari kewajibanku sebagai kepala keluarga dan penerus keturunan…Tapi…[ kamu ]…akan selalu jadi satu-satunya. [ Aku ] akan mematikan perasaanku untuk selamanya. [ Kamu ] akan menjadi orang terakhir yang pernah merasakannya. Merasakan milik manusia yang paling murni dan berarti. Dan tak akan ada sesuatu di alam semesta bisa mengalahkan apa yang pernah kita miliki. Apa yang pernah kita rasakan. Apa yang pernah kita perjuangkan. [ Aku ] akan bersyukur seumur hidupku, bahwa [ aku ] pernah merasakan kebahagiaan yang sebenarnya dan seutuhnya, di saat [ aku ] menjalani ini semua sama [ kamu ]…"

Klik.

Hisap. Hembus.

Batang ke empat.

Air mata.

Gemetar.

Rapuh.

Lunglai.

Ia coba menguatkan diri. Menyusun kembali pecahan-pecahan yang  telah tercerai-berai. Menutup kenangan tentang pria itu. Maju selangkah menuju masa depan.

"Aku, mulai detik ini…akan memusnahkan jati diriku yang dulu, untuk selamanya.

Aku…tak akan pernah lagi…menjadi…"

Kemudian ia berdiri, berjalan ke arah lemari pakaian, memilih gaun.
Setelahnya ia duduk di depan cermin untuk memperindah diri secantik mungkin. Ia  juga memanjakan tubuhnya dengan gelang, kalung dan anting yang membuatnya terlihat sangat elegan.

Ia memasangkan sepatu hak di kedua kakinya yang halus dan jenjang.
Membetulkan gaya rambutnya yang hitam dan panjang.

Tiba saatnya melebarkan senyum dan melenggok dengan anggun.

Waktu terhenti sesaat. Semua suara kabur dari pendengaran.

Ia sekali lagi meyakinkan diri.

Memantapkan satu pilihan untuk hidupnya.

Membentangkan jalur yang pasti untuk langkah-langkahnya.

Mengokohkan niat.

Dan ia…

mengucap kalimat semegah semesta.

"Aku…
tak akan pernah lagi…

menjadi Sarno Kumara…"

Dan Sharmila pun tenggelam di antara hiruk-pikuk kota. Di malam remang-remang.   Menjajakan kemolekannya di hadapan para pengendara motor yang berlalu-lalang.

"Tigapuluhribuan oom sekali pegaaang…Emut-emut juga boleeee…Kena gigi graatiiiiis"

~ by d-i-t-y-a on July 13, 2007.

13 Responses to “Sharmila : Sebuah Pencarian Jati Diri.”

  1. HUAHAHAHAHAHA… I like it. endingnya menohok sangat ya diiittt??? Berhasil membuat saya terbahak-bahak di subuh ini. You’ve done the homework really well. I shall give u an A for that… hehe. Ditunggu lo diit cerpen2 berikutnya. Apa mau bertukar tema lagi? =D
    *yay! the homework make u write something again!! ;)*

  2. aiiih..aiihh..saya sangat terharu membacanya!!
    eventhough gw td bilang pernah ada cerita yg hampir mirip, tp yg penting cara penulisannya, penggambaran suasana n pemilihan kata2nya beda bgt!! gw lebih suka yg ini!! tulisan2 yg laen jg oke22..sekali lagi..saya sangat terharu..dan sekali lg..saya sangat mendukung munculnya karya2 indah anda!! keep up d good work!!
    *ttooob markotooob juragaaan*

  3. hahaha makasih, kawan2… :)
    doain yah biar tembus ke majalah!

    pengen jadi freelance writer nih…mudah2an berhasil, amiiin…

    oiya, ditunggu komentar dari kawan2 lainnya…

    thanks a lot for the support, guys! couldn’t have done it without you!

  4. *standing ovation*
    wow. u’ve done it beautifully, an A+ for that.

    kewRen gyLa..

    ji cfc bckcv fov, bckcv lcfo mcr.
    MWAHAHHAAHHAHAAHAH

    ditunggu lho di mabes F16.

  5. zocjch ju,dc!
    but thanks anyway! “we are better than sukhoi” ahahahaha

  6. Sebuah awal yang penuh tragedi
    mengundang tangis menyentuh hati
    Empati menyelubungi
    sebuah hati yang tersisih
    Melukai perasaanku
    membuatku terhanyut…
    Ketika tiba saatnya
    AKU MENYESAL KETIKA MENGETAHUI SIAPA IA SESUNGGUHNYA DAN APA YANG IA LAKUKAN!!!
    TIDAAAAAAK!
    God,have mercy on him…eugh…her…sigh…whatever…

  7. Bagus banget mu..
    Salah satu karya terbaik yg pernah mumu buat..
    Awal ceritanya bikin penasaran..
    Kalimat demi kalimat yg mendetail membuat suasana cerita terasa nyata..
    Pertengahan cerita buat aku terharu&pingin nangis..
    Aku bisa ngerasain perasaan tokoh utamanya&membayangkan ada di cerita itu..
    Penasaran..penasaran..penasaran..
    Aku ngga sabar untuk tau akhir cerita tokoh utama..
    Aku menebak-nebak akhir ceritanya..
    Huahahaha..
    *Shit* “nyebelin” (lucu) banget akhir ceritanya terutama “the last sentence”..
    Tnyt tebakanku bener tp ga nyangka kamu bisa punya pikiran se-menakjubkan itu utk penutup ceritanya..
    Dari nangis karna kasihan jd nangis karna tertawa..
    Congratulation mu,I give you A+++ for this blog..
    Kamu harus kirim cerpen ini ke majalah pasti byk orang yg suka..
    Semua orang akan tahu kalo kamu punya talenta yg besar di seni (sastra&musik)..
    Ditunggu ya karya2 besar yang lain (^_^)..

  8. i link your page ;-)

  9. thanks A LOT! ;)
    you guys are the best! :)

  10. cerita yg tidak embosankan walaupun dibaca berkali-kali..
    setiap kata penuh makna dan membuat siapapun yang membacanya harus meresapinya..

    I’m so proud of you..
    Mu..mu..mu..

  11. Anda layak dapat BINTANG!
    Karya terbaik (tetep setelah ‘the greatest nonsensical theories of mine. not..’ ;p)!

    Ditya sih emang gifted di bidang seni, apapun itu ga cuma sastra sama musik doang. Kalo Ditya mau sih pasti bisa.

    keep up the good work ya dut!

  12. bravo…

    bravo…..

  13. oh…dit..

    one great story..!gw ampe ternganga d depan screen gw…

    big applause to you….!!

Leave a Reply