Jumat, 20 Juli 2007, 11.02 PM
Seorang perempuan tersungkur di trotoar. Kehujanan. Terisak-isak. Kebingungan. Ketakutan. Jantungnya serasa mau meledak menahan emosi. Perempuan itu bernama Asa.
Seorang laki-laki tertidur di kamar rumah sakit. Bernapas tidak beraturan. Mukanya sangat letih. Badan penuh luka yang dibalut. Cairan infus mengaliri nadinya. Laki-laki itu bernama Makna.
Petir tidak berhenti menyambar. Angin kencang menerpa pepohonan, membuatnya meliuk-liuk liar. Setiap tetes hujan menabrakkan diri ke atap rumah, jendela, jalan, lampu, mobil, rerumputan beserta beribu benda lainnya yang diam tidak berdaya. Tidak ada manusia berani keluar malam itu. Kehidupan seakan terhenti.
Jumat, 20 Juli 2007, 10.34 PM
“Makna…please ngomong dong…jangan diem aja…aku bener-bener nggak ngerti kenapa sikap kamu kayak gini…aku udah berjuta-juta kali minta maaf, aku udah jelasin semuanya setengah mati, please kasih tanda kalo kamu ngerti…sekali aja…aku…”
Makna terdiam. Pandangan hampa. Menerawang ke luar jendela. Malam sedang menangis.
“Makna…kamu kenal aku dari dulu…kamu selalu jadi orang yang paling ngerti aku…kamu selalu tau segala pikiran, perasaan, kemauan dan ketakutanku…please, Makna…inget itu, kamu pasti ngerti banget gimana aku, dan apa yang aku rasain seutuhnya….”
Makna masih terdiam. Matanya menunjukkan kesedihan yang amat sangat.
Kemudian Makna mengeluarkan beberapa patah kata yang lirih; “Tolong jangan ganggu aku lagi…jangan buat aku makin sedih…aku sayang banget sama kamu, Asa…tapi aku nggak bisa begini terus…lebih baik aku nggak mikirin kamu lagi…bye, Asa…”
Kamis, 19 Juli 2007, 07.22 AM
“Makna…maafin aku yah udah buat kamu jadi begini…Aku sedih banget ngliat kamu kayak gini…Aku nggak tega, Makna…Aku sayang banget sama kamu…”
Asa mengusap dahi Makna yang sedang tertidur pulas.
Asa menghela napas.
Asa memandangi wajah Makna, seseorang yang ia kenal dari kecil. Seseorang yang sudah melewati berbagai pengalaman bersamanya. Seseorang yang telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Setia dalam suka maupun duka.
Asa teringat masa kecilnya bersama Makna. Bermain-main di lapangan, mengejar layangan, bercanda dan tertawa lepas. Murni dan polos. Ingin rasanya punya kebahagiaan seperti itu lagi.
Rabu, 18 Juli 2007, 01. 35 PM
Makna sedang makan siang di tempat tidurnya. Makanan khas rumah sakit yang tidak ia suka. Tapi terpaksa, “biar cepat fit” kata dokter. Tidak ada orang lain di dalam ruangan kecuali Asa.
“Makan yang banyak yah…Aku tau kok rasanya nggak enak, tapi aku bangga kamu mikirin kesehatan kamu…Aku bangga banget…”
Makna sibuk mengunyah.
“Makna…”
Makna tetap sibuk mengunyah.
“Makna…aku…mmm…”
Asa memberanikan diri.
“Aku seneng kita nggak kenapa-napa…aku seneng masih bisa ketemu kamu di sini…Tapi aku bener-bener nyesel lho, udah bikin kamu kayak gini…Maafin aku yah? Kamu tau kan aku nggak pernah bermaksud jahat sama kamu?”
Makna cuma mengangkat bahu.
“Nggak apa-apa kok kalo kamu mau marah sama aku…Tapi jangan diem aja yah…Aku kan sedih ngliat kamu cemberut terus kayak gitu…seenggaknya bilang apa, gitu, sama aku…”
Makna melihat Asa sebentar, kemudian melihat ke arah lain.
Asa tiba-tiba teringat.
“”Oh, iya…aku buat sesuatu untuk kamu nih…”
“mengalir perlahan di nadi-nadiku.
melambat. berat. hangat.
terbuailah jiwa yang lirih.
terhiburlah. terselamatkanlah. tersenyumlah.
rasuki relung-relung pikiranku.
bergerak maju. melaju. terpacu.
tuntunlah bahagiaku dengan warnamu.
mengusir sunyi. menunjukkan diri. menemukan arti.
jiwa raga kita ‘kan lepas dari kekangan masa.
harapan kita ‘kan melebur dan menyatu.
keraguan kita ‘kan hilang terbinasa.
dan seluruh semesta ‘kan mengharu biru.
merayakan perasaanku.
merayakan perasaanmu.
selalu.”
“Cepet sembuh ya, Makna…”
Selasa, 17 Juli 2007, 07. 01 PM
Ibu Makna datang. Beliau ingin menemani Makna hingga esok pagi. Beliau membawa berbagai perlengkapan untuk menginap di dalam sebuah tas besar.
Dokter memberitahukan kemajuan kesehatan Makna. Beliau tersenyum lega mendengarnya.
Makna sudah mulai bisa makan sendiri.
Senin, 16 Juli 2007, 11.11 AM
Makna dijenguk adiknya.
“Makna kangen banget sama Asa…”
Adiknya mengangguk penuh pengertian. Kemudian Makna menutup mata kembali.
Asa juga tidak berhenti memikirkan Makna. Asa tidak sabar bertemu Makna lagi. Asa ingin memberi sesuatu untuk Makna.
Minggu, 15 Juli 2007, 03.13 AM
Makna demam tinggi. Badannya berkeringat deras. Ia tidur, tetapi tidak menikmatinya. Sekujur tubuhnya terasa sakit.
Semua kejadian beberapa hari ini melintas dalam mimpinya. Campur aduk dan begitu cepat berganti-ganti adegan.
“Makna!”
“Hahahaha…”
“Maaf yah Asa nggak bilang…”
“Awas!”
“……………”
“mmm…blh…”
“Nggak lama-lama kok, ma…”
Makna terbangun. Matanya melotot. Napasnya tersengal-sengal. Ia ketakutan mengingat itu.
Kamis, 12 Juli 2007, 09.28 PM
“1 new message”
SMS dari Asa.
“makna, gi apa?sabtu mlm jln sm asa yuk..bosen niy dirmh mlulu..pgn cb mkn ditmpt yg makna blg wkt itu d..kbrin yah!”
Reply.
“lg dgrin lagu ni…mmm…blh…tp liat keuangan dl ya…takutnya bsk ada kperluan mdadak, ntar dikbrin lg deh…”
Send.
Makna senyum-senyum sendiri. Makna punya banyak kenangan. Banyak juga perasaan yang tersimpan dalam-dalam.
“Apa sih yang nggak dibela-belain buat Asa?” kata Makna dalam hati.
Asa, salah satu orang terpenting dalam hidupnya. Sahabat kecilnya. Teman di kala senang, teman di kala sedih pula.
Lucu. Pintar. Kreatif. Senang tertawa. Cukup keras kepala. Kadang konyol. Spontan. Mudah bergaul dengan siapa saja. Sangat perhatian.
Makna menikmati lagu-lagu dari Hope Sandoval and the Warm Inventions dan terlelap tak lama kemudian.
Jumat, 13 Juli 2007, 10.44 PM
“Halo…kita jadi pergi kan besok?”
“Jadi dong…”
“Apa? Asa mo traktir? Baik banget sih hahaha…”
“Enak aja! Kondisi keuangan kita jelas-jelas senasib!”
“Iya, iya, becanda ah…Makna juga ngerti, kale le le le…”
“Aneh lu! Dasar…Nama Makna, tapi becandaannya nggak!!! Eh, jangan telat-telat banget jemputnya ya, takut tempatnya keburu penuh…”
“Siap, ndoro! Dasar lu! Dah bagus dijemput!”
“Ah sayang, gitu aja marah…Kan maksud aku baik…Ntar nggak aku kasih lagi, lho ahahahaha…”
“Sayang, sayang, kacrut lu ah! Yaudah, sayang pulsa ni nelpon lama-lama!”
“Yaudah…sampe besok yah Makna…Dah…”
“Dah Asa…”
Muka Makna memerah.
Sabtu, 14 Juli 2007, 07.12 PM
“Aduh maaf yah agak telat, di jalan macet banget soalnya…biasalah banyak orang nggak penting yang berasa keren nyempit-nyempitin jalanan…”
“Alaaah kayak dulu nggak pernah kayak gitu ajaa…”
“Nggak tuh…Kan dari dulu setiap malem minggu demenannya ngaji sampe subuh.”
“Ih, orang kayak lu gitu??? Nggak banget sih! Yuk ah.”
Makna pamit ke orangtua Asa, kemudian mereka langsung berangkat dengan terburu-buru.
Sabtu, 14 Juli 2007, 08.03 PM
Ketika mereka sampai di tempat tujuan, mereka agak kaget karena ternyata tempatnya tidak sepenuh yang mereka bayangkan. Mereka bahkan bisa memilih spot yang nyaman.
Makan. Mengobrol. Mengunyah. Tertawa. Tersedak. Minum. Ceria. Bersenang-senang. Seru. Tambah minum. Click. Chemistry yang kuat. Malam itu milik mereka.
Sabtu, 14 Juli 2007, 09.36 PM
“Udah yuk, berhitung…”
“Ayo, satu… dua… tiga… KABUR!”
“HEH! Jangan! Jangan tinggalin Asa maksudnya hehehehe…”
“Bodoh!”
Setelah membayar, mereka beranjak ke mobil.
“Kita jalan lagi yuk, cari tempat ngobrol yang enak mau nggak?”
“Emang Asa mo kemana?”
“Kemana ajalah, terserah…Kan Makna juga tau tempat-tempat kesukaan Asa yang kayak gimana…”
Makna belum tahu harus ke mana. Tetapi Makna tidak terlalu memikirkan itu. Yang penting bisa menghabiskan waktu bersama Asa. Makna mengendarai mobilnya perlahan. Menikmati lampu-lampu kuning dari jalanan. Menikmati waktu-waktu bersama Asa. Bersyukur pada Tuhan karena selama ini telah didekatkan dengan Asa.
“Makna!”
“Apa sih, ngagetin aja!”
“Cewek yang waktu itu pakabar?”
“Ah ngapain ditanyain lagi sih? Asa kan tau banget critanya gimana!”
“Hihihi iya, kan godain aja, biar kesel!”
“Aduuh jadi nggak enak ni suasananya…Jadi sedih kan…”
“Jangan doong…Makna tau kan, kalo Asa sayang sama Makna? Asa paling nggak mau liat Makna sedih…”
“Iya, tau…Asa juga sahabat yang paling Makna sayang…”
“Tapi Asa sayang sama Makna jauh lebih dalam dari itu…”
Makna tertegun sejenak.
“Eh…?”
Makna menyesal telah mengeluarkan dua huruf yang kurang penting itu.
Jantungnya serasa mau copot. Adrenalin meningkat. Banyak pikiran muncul dan menambah beban keadaan yang sudah berat.
“Iya…Asa ngerasa cuma Makna satu-satunya yang selalu bikin Asa bahagia…Yang selalu ada buat Asa…Yang paling sabar ngadepin Asa…Yang paling ngerti apa mau Asa…Maaf yah Asa nggak pernah bilang dari dulu…”
“Oh?”
Makna semakin kesal dengan diri sendiri. “Aduuuuh, bego! Ada apa sih sama dua huruf???” katanya dalam hati.
“Asa tau kok Makna pasti ngerti banget apa yang Asa omongin…Emang Makna nggak pernah kepikiran untuk ngejalanin bareng Asa ya?”
“Mm…Uhh…Yaa…Gimana ya? Tunggu, tunggu…Ambil napas dulu…Huufff…Ngomong-ngomong kita parkir dulu aja yuk, di sini spotnya enak banget buat ngobrol…”
Sabtu, 14 Juli 2007, 10.09 PM
Makna akhirnya membuka semua. Perasaannya selama ini. Harapannya. Pengorbanannya. Kesabarannya. Bagaimana semua yang mereka alami dari kecil menjadi pengalaman terpenting bagi hidupnya.
Asa tersenyum. Asa memeluk Makna. Makna mengelus punggung Asa. Sudut mata Asa sedikit basah. Harum. Nyaman. Disinari lampu remang-remang dari jalan. Bahagia. Saat terbaik dalam hidup. Akhirnya.
Arti pelukan itu sangat dalam untuk mereka.
Penyatuan jiwa. Luapan emosi. Pelepasan keinginan yang selama ini tertahan.
Persamaan.
Keindahan.
Soulmate.
Aksara telah kehilangan makna dihadapan kejadian itu.
“………….”
Sabtu, 14 Juli 2007, 10.53 PM
Mereka berdua telah menemukan satu tujuan hidup baru.
Menyenangkan satu sama lain. Mendukung satu sama lain. Mengerti satu sama lain. Mempercayai satu sama lain.
Pelipur lara. Pemapah batin.
Masa depan yang menyenangkan.
” ##### ”
Suara handphone Asa.
Asa ditelepon ibunya.
“Nggak lama-lama kok, ma…Lagipula kan perginya sama Makna…Mama tenang aja ya…Dah mama…”
Makna menyalakan mesin mobilnya.
Kemudian memasang cd.
Sigur Rós - Ágætis Byrjun.
“Bjartar Vonir Rætast
Er Við Göngum Bæinn
Brosum Og Hlæjum Glaðir
Vinátta Og Þreyta Mætast
Höldum Upp Á Daginn
Og Fögnum Tveggja Ára Bið
Fjarlægur Draumur Fæðist
Borðum Og Drekkum Saddir
Og Borgum Fyrir Okkur
Með Því Sem Við Eigum Í Dag
Setjumst Niður Spenntir
Hlustum Á Sjálfa Okkur Slá
Í takt við tónlistina
Það Virðist Enginn Hlusta
Þetta Er Allt Öðruvísi
Við Lifðum Í Öðrum Heimi
Þar Sem Vorum Aldrei Ósýnileg
Nokkrum Dögum Síðar
Við Tölum Saman Á Ný
En Hljóðið Var Ekki Gott
Við Vorum Sammála Um Það
Sammála Um Flesta Hluti
Við Munum Gera Betur Næst
Þetta Er Ágætis Byrjun”
Mobil dari arah berlawanan.
“Awas!”
Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
“Makna…I’m so happy to be with you…”
Sabtu, 14 Juli 2007, 11.44 PM
Ambulans.
ICU.
Sekumpulan orang berbaju putih.
Angkat. Taruh.
Steril.
Obat-obatan.
Setengah sadar.
Perlahan hilang.
Minggu, 15 Juli 2007, 09.25 AM
Makna terbangun.
Disorientasi.
Mencoba mengingat apa yang terjadi.
Pening.
“Asa…”
Badannya terlalu lemah.
Hilang kesadaran lagi.
Minggu, 15 Juli 2007, ?
Samar-samar terdengar suara televisi.
” …mabuk dan mengendarai mobil, menabrak mobil lain berisikan dua penumpang, satu pria dan satu wanita. Dilaporkan bahwa penumpang pria mengalami luka parah, sementara penumpang wanita tewas akibat kehabisan darah, ketika sedang dilarikan ke rumah sakit terdekat. Keterangan lebih lanjut…”
Minggu, 15 Juli 2007, 17.18 PM
Makna menangis sekencang-kencangnya.
* * *
Minggu, 15 Juli 1990, 17.18 PM
Dua anak berlari-lari sambil tertawa.
Tanpa beban.
Tanpa pikiran.
Tanpa paksaan.
Mereka terlihat sangat bahagia.
Kenangan ini akan mereka ingat seumur hidup.
“Makna! Udah sore niih, pulang yuk!”
“Yuk! Tapi besok kita main lagi ya! Jangan lupa lho!”
“Iya! Hahahaha! Sampai besok ya!”
“Dah Asa!”
“Dah Makna!”
Sinar mentari terbenam memeluk tubuh mungil mereka, menciptakan tarian bayangan diantara langkah-langkah kecil yang berlarian pulang ke rumah.
Makna dan Asa kecil mengembangkan senyum tak henti-henti, merasa beruntung punya teman yang selalu membuat hati mereka gembira.
“Asa…I’m so happy to be with you too…”